Pola Bisnis Arminareka Perdana, Halalkah?

Tidak bisa dipungkiri, perjalanan Haji dan Umrah kini telah menjadi salah satu bisnis usaha yang sangat menjanjikan keuntungan. Karena itu, tidak sedikit pihak yang berlomba-lomba membuat usaha dalam bidang jasa tour dan travel khusus untuk perjalanan Haji dan Umrah. Dan dalam menjalankan bisnis perjalanan Haji dan Umrah, berbagai macam model pemasaran digunakan guna mendapatkan jamaah sebanyak mungkin. Namun sangat disayangkan, tidak sedikit orang yang karena tergiur keuntungan semata, mereka menjalankan pola bisnisnya dengan cara yang tidak halal  bahkan dengan melakukan penipuan. Beberapa kasus yang menjalankan bisnis dengan cara yang tidak halal, masih jelas dalam ingatan kita kasus mengenai First Travel yang menggunakan cara money game (arisan berantai) dan disinyalir menggunakan cara MLM (Multi Level Marketing) untuk menutupi operasi money game yang dijalankan.

Pada artikel ini, kami mencoba mengkaji pola bisnis yang dijalankan oleh PT. Arminareka Perdana yang telah dikenal publik sebagai salah satu penyedia jasa perjalanan Haji dan Umrah dengan prestasi memberangkatkan jamaah dengan jumlah terbesar di Indonesia. Sebelumnya PT. Arminareka Perdana diketahui menerapkan jasa pemasaran langsung berbasis jaringan. Kini, dengan adanya kebijakan yang melarang penyelenggara perjalanan ibadah Haji dan Umrah untuk melakukan pemasaran berbasis jaringan, PT. Arminareka Perdana menerapkan metode pemasaran konvensional, namun tetap menjadikan jamaah yang terdaftar sebagai tenaga pemasaran. Bagaimanakah metode ini dari sisi syariat? Insyaa Allah kita akan bahas dengan maksud untuk murni sebagai kajian.

Ada beberapa hal yang harus dijadikan pegangan untuk mengulas hal ini, yaitu :

  1. Patokan biaya umrah dari Arminareka dimulai dari harga Rp. 22.900.000 per jamaah. Dengan demikian sudah melebihi standar yang ditetapkan oleh Kementrian Agama bahwa patokan dana umrah minimal sebesar Rp. 20.000.000 (dua puluh juta rupiah) per jamaah.
  2. Down Payment (DP / Uang Muka) yang harus dibayarkan oleh calon jamaah ketika mendaftar umrah adalah sebesar Rp. 3.500.000 (tiga juta lima ratus ribu rupiah).
  3. Setelah menjadi jamaah yang terdaftar, pihak Arminareka memberi izin kepada jamaah umrah ini untuk melunasi kekurangan biaya sesuai paket perjalana yang dipilih dengan cara membayar tunai atau mengangsur/mencicil sampai dengan waktu 1 bulan sebelum tanggal keberangkatan.
  4. Arminareka juga menawarkan sistem bagi hasil kepada jamaah yang sudah terdaftar untuk mengajak orang lain guna ikut jamaah umrah bersama Arminareka. Sifat dari tawaran ini tidak mengikat. Namun, bagi setiap jamaah yang berhasil mengajak 1 orang untuk mendaftar, ia dijanjikan fee sebesar Rp. 1.500.000 (sebelum dipotong pajak sebesar 10%). Bisa mengajak 2 orang, langsung mendapat fee sebesar Rp. 3.000.000 (sebelum dipotong pajak sebesar 10%). Dan berlaku kelipatannya. Bila jamaah itu mampu mengajak semakin banyak calon jamaah, maka ia bisa berangkat umrah dengan hanya uang sebesar 3.5 juta rupiah ditambah fee yang berhasil dikumpulkannya dari hasil mengajak tersebut.
  5. Jamaah yang berhasil didaftarkan oleh jamaah umrah sebelumnya, secara otomatis juga bisa mendapatkan fee yang sama dengan jamaah sebelumnya yang mendaftarkannya menjuadi jamaah Arminareka. Yang perlu dicatat adalah bahwa jamaah yang mendaftarkan ini tidak mendapatkan income apapun dari hasil mendaftarkan jamaah. Nah, di sinilah letak perbedaannya dengan money game yang diterapkan oleh beberapa MLM arisan berantai lainnya.

Kemudian, yang menjadi tema permasalahan Fiqih-nya adalah sebagai berikut :

  1. Termasuk akad apakah ajakan Arminareka kepada jamaah agar diam mau mencari calon jamaah dengan imbal Rp. 1.500.000 per jamaah yang mendaftar?
  2. Apa kedudukan fee yang semakin banyak dan diterima oleh jamaah yang berhasil mengajak calon jamaah lain tersebut menurut timbangan fiqihnya?
  3. Bolehkah fee itu diterima oleh jamaah? Apakah fee  itu halal?

Sebelumnya, kita ingat kembali bahwa harga paket sebesar Rp. 22.900.000 adalah sudah maklum bagi jasa travel umrah. Angka itu sudah menyisakan nilai keuntungan yang bisa diterima oleh pihak travel. Sehingga, dalam nilai harga tersebut sudah memenuhi unsur laba/keuntungan yang bisa dijamin. Sehingga untuk harga biaya paket tidak ada masalah dalam keumuman biayanya.

Berikutnya, tawaran  fee yang diberikan oleh pihak Arminareka bagi jamaah yang telah mendaftar untuk mencarikan kemudian mendaftarkan calon jamaah lain. Akad apakah ini?

Ada beberapa pandangan dalam hal ini.

  1. Pertama, akad tersebut adalah Akad Samsarah (Makelar).
  2. Kedua, akad tersebut adalah Akad Wakalah.
  3. Ketiga, akad tersebut adalah Akad Syirkah (Kemitraan).
  4. Keempat, akad tersebut adalah Akad Ijarah (Jasa).

Jika melihat jelasnya Ujrah (fee) yang didapat oleh jamaah tersebut (Rp. 1.500.000/jamaah), maka akad ini bisa masuk sebagai akad Samsarah atau akad Wakalah. Masing-masing dari kedua akad ini memang mensyaratkan adanya ujrah yang maklum. Namun, jika akad tersebut dimasukkan sebagai akad Syirkah (Kemitraan), maka Syirkah yang berlaku atas jamaah tersebut adalah syirkah Abdan. Syirkah ini dilarang dalam Madzhab Syafii namun diperbolehkan untuk tiga madzhab yang lain. Dengan demikian, kiranya yang lebih pas menurut konteks Madzhab Syafii, akad tersebut adalah Akad Wakalah atau Akad Ijarah (Jasa).

Jika masuk dalam akad Ijarah, maka kedudukan fiqih dari jamaah yang mengajak orang lain tersebut adalah setara dengan sales marketing atau orang yang disewa jasa pemasarannya (ajiir). Sebagai tenaga pemasaran, sudah pasti ia berhak menerima upah. Jaman gini, mana ada sales marketing yang tidak diupah? Oleh karena itu, maka besaran fee senilai Rp. 1.500.000 merupakan harga sewa jasa pemasaran tersebut. Kita sering menyebutnya sebagai upah. Walhasil, tawaran dari Arminareka kepada jamaah tersebut kita masukkan dalam akad Ijarah (Jasa).

Permasalahan berikutnya adalah termasuk akad apakah fee yang diterima secara meningkat oleh jamaah yang berhasil mengajak orang lain tersebut? Jika melihat pola fee yang didapat jamaah berdasar prestasi memasarkan jasa umrah ke orang lain, maka tidak syak wasangka lagi bahwa akad ini termasuk akad Ju’alah. Dalam kaidah ekonomi sering dikenal sebagai akad pendapatan berbanding resiko. Semakin keras usaha ia memasarkan dan semakin banyak calon jamaah yang berhasil diajaknya, maka semakin besar pula pendapatan yang ia peroleh.

Karena fee yang diperoleh oleh jamaah merupakan buah dari hasil usaha pemasaran yang berarti ada kulfah (beban kerja) yang dilakukannya, maka jelas bahwa fee itu merupakan yang halal baginya. Mungkin ada yang bilang, lho masak hanya berbekal ngomong saja dapat uang? Begini, memasarkan jasa senilai 22 juta itu bukan perkara ringan. Meskipun yang diajak kelihatannya hanya 13 orang, mendapat 1 konsumen saja yang mau ambil jasa senilai itu adalah sudah untung-untungan. Jadi, mencari 13 orang itu bukanlah perkara mudah. Jadi, seandainya ia digaji 1.5 juta untuk tiap orang yang mau mendaftar, itu sudah luar biasa dan bisa jadi terlalu murah karena belum tentu ia bisa mendapatkan anggota sebulan sekali. Mudah dipahami, bukan?

Jadi dapat disimpulkan bahwa pola bisnis yang dijalankan oleh Arminareka tidak menyalahi syariat dari sisi fiqih dan Ujroh (fee) yang diterima oleh jamaah yang memasarkan paket perjalanan Umrah Arminareka adalah halal.  

Layanan Keberangkatan Ibadah Haji & Umroh

Ankafa Armina

Bimbingan Ibadah dan Layanan Keberangkatan Haji & Umroh

Alamat

ANKAFA ARMINA

Jl. H. Muhajar No. 32A RT.03 RW.03
Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk,
Jakarta Barat 11560

Kontak

KONTAK

H. Fadli S.Kom., S.Si

NO. TELEPON

+62.812.8920.5700

ALAMAT EMAIL

fadli@ankafaarmina.com
Copyright © 2015 - 2020 Ankafa Armina
Design by Ankafa Tech
userfilmbookmarkcameraphonebookmark-oenvelopebuilding
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram